Peduli Kelangsungan Budaya Jawa, Royal Ambarrukmo Gelar Gladi Beksa

AgendakuID (03/05/17), Gladi Beksa di Kedaton Ambarrukmo setiap hari Selasa sore, mulai pukul 4 sore bertempat di situs cagar budaya abad ke-18 ini, kegiatan edukasi dan berlatih tari jawa klasik akan berlangsung, terbuka bagi tamu hotel dan publik, semua umur – baik pria dan wanita. Bersama dengan Patehan dan Jemparingan di tiap hari Jumat sore serta beberapa kegiatan berpokok pada budaya lokal serta gaya hidup modern.

Kedaton Ambarrukmo dibangun kokoh dengan tradisi dan filosofi Jawa yang kuat. Setiap bagian detil dari keseluruhan kompleks memiliki fungsi yang berbeda dan mengandung arti dalam (serta pendoa), merepresentasikan nilai religi, kepercayaan dan norma sosial budaya Jawa. Ruang peralihan antara Pendopo Agung dan Ndalem Ageng yang bernama Pringgitan, pada awalnya memang difungsikan sebagai tempat untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit, tari dan tradisi lainnya.

Pringgitan memiliki makna konseptual yaitu sebagai tempat untuk memperlihatkan diri sebagai simbolisasi dari pemilik rumah bahwa dirinya hanya merupakan baying-bayang atau wayang Dewi Sri yang merupakan sumber segala kehidupan, kesuburan dan kebahagiaan. Di areal penuh historis dan benang merah kepada Keraton Yogyakarta, khususnya Sultan Hamengku Buwono VII inilah, Gladi Beksa akan diberlangsungkan tiap Selasa sore.

Sultan Hamengku Buwono VII dikenal dengan pemikirannya yang visioner dan moderen pada masanya yaitu masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah didirikan dan beliau mengirimkan putra-putranya untuk belajar ke Belanda. Untuk memajukan dan mencerdaskan rakyatnya, salah satu yang Sultan Hamengku Buwono VII lakukan adalah membawa kesenian tari yang dulu adalah hanyak milik „warga dalam‟ ke luar tembok Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Maka melalui pangeran GPH Tejokusomo dan BPH Suryodinigrat dengan dukungan dan restu dari Sultan Hamengku Buwono VII didirikannlah „Krida Beksa Wirama‟ pada 17 Agustus 1918, yang merupakan organisasi tari pertama yang berada diluar tembok Keraton.

Krida Beksa Wirama terlahir bukan semata sebagai organisasi kesenian, tetapi juga organisasi pergerakan melawan penjajahan dengan memanfaatkan kekuatan seni. Melalui KBW diajarkan pula nilai-nilai luhur budaya sekaligus pendidikan politik pada rakyat. KBW juga yang pertama yang mengajarkan teknik hitungan dalam belajar menari, karena pada dahulu kala belajar menari hanya menirukan atau mencontoh. Pada latihan perdana ini ditarikan pula “Tari Sari Tunggal” yang diciptakan tahun 1928. Gerakan pada tari Sari Tunggal adalah gerakan dasar yang ada pada semua gerakan, soko guru pondasi bagi nomor tari klasik jawa yang pernah dikaryaciptakan.

You May Also Like