Mother Dance #Yogyakarta 31/12/17-04/01/18

Event : Mother Dance

Tanggal : 31 Desember 2017 – 04 Januari 2018

Tempat di Istana Kematian, Cagar Budaya Makam Ratu Malang, Gunung Kelir, Pleret, Pleret Bantul, Yogyakarta

Jam : 16.00 WIB – Selesai

Info : 087838846569, 08156868578

Pengalaman tentang kehilangan seseorang yang sangat berarti ini menggambarkan betapa kesedihan yang sangat mendalam dan memberikan refleksi tentang kedekatan manusia dengan kematian. Kemudian pengalaman tersebut menciptakan sebuah ‘teks’ yang menjadi landasan dalam menciptakan sebuah peristiwa pertunjukan. Menggunakan penamaan peristiwa pertunjukan merupakan bagian dari konsep yang ditawarkan pada teater-ruang, yang akan melibatkan penonton menjadi kesatuan dari peristiwa teater. Cara yang dipilih dalam mendialogkan peristiwa teater tersebut dengan mengeksplorasi gerak tubuh dan tembang jawa, yang dibingkai dengan judul Mother Dance. Pertunjukan ini akan diselenggarakan oleh Pondok Pesantren (PP) Kaliopak.

“Saya ingin mengajak para pencinta teater untuk memasuki ruang kuburan. Praktik ziarah ini jarang dilakukan. Saya menawarkan konsep pertunjukan yang melibatkan penonton yang akan menjadi partisipan peristiwa pertunjukan,” kata Brily, aktor teater yang menggarap pertunjukan Mother Dance. Di pertunjukan Mother Dance, aktor dipertemukan dengan makam dari Kyai Panjang Mas dan Nyai Ratu Malang yang disebut dengan Istana Kematian. Dari pertemuan tersebut, aktor meletakkan dirinya, dan kemudian menggali teks yang berada di ruang tersebut. Istana kematian memberikan teks yang kemudian menjadikannya sebagai teks pertunjukan, yaitu tentang kisah cinta dan kematian dari Kyai Panjang Mas dan Nyai Ratu Malang.

“Jadinya pertunjukan ini adalah hasil serapan dari teks sosial yang ada di ruang kuburan,” lanjut Brily. Brily ingin mengajak para penonton untuk merasakan apa yang dilakukannya di ruang tersebut. Dalam diri manusia, menurut Brily, ada nilai-nilai yang melekat dan bisa menjadi kekuatan. Dia memilih ruang kuburan guna menawarkan bagaimana nilai-nilai itu disampaikan lewat ruang spesifik. Karena itulah teks tentang kematian ibu yang melekat pada tubuh aktor mengalami perkembangan teks setelah bertemu dengan kisah dari Ibu Ratu Malang.

Peristiwa pertunjukan dengan waktu 5 hari berturut-turut memiliki landasan pemikiran dari sebuah pergerakan kebudayaan yang coba ditawarkan melalui
peristiwa pertunukan teater. Teater menjadi sebuuah produk karya seni yang dinilai dapat menjelajahi nilai sejarah dan adilihung pada sebuah ruang dengan masyarakat yang menghidupinya. Pemahaman ini merupakan sebuah penjelajahan itu sendiri untuk membantu menjawab pertanyaan yang saat ini mungkin beredar di kalangan para praktisi maupuan konseptor mengenai nilai apa yang dapat dibangun antara hubungan teater dengan sebuah masyarakat, dengan sebuah sejarah, dengan sebuah kebudayaan manusia.

Hal ini yang memberikan dorongan untuk menempatkan teater sebagai media dialog kebudayaan melalui pertemuan dengan ruang-masyarakat.
Memilih pemakaman Istana Kemataian yang sekaligus sebuah cagar budaya sebagai ruang peristiwa pertunjukan mempunyai landasan yang bertujuan untuk mengajak ‘penonton teater’ memasuki ruang kuburan. Selain itu untuk mengajak membuka kembali catatan sejarah mengenai kisah tentang seorang maestro Dalang Mataram yaitu kyai Panjang Mas beserta sindhen sekaligus istrinya yaitu Nyai Ratu Malang.

You May Also Like